lendabook:

lendabook

Presentasinya LendABook..

Halo Indonesia. Mari berkontribusi memajukan minat baca anak muda Indonesia dengan cara saling pinjam-meminjam buku bersama kami! :)

(Source: lendabook)

lendabook:

Jogja Lendabook #1MeetUp
Saturday, 25 Mei 2013 | 08.00 AM | Benteng Vredeburg
Bring your:
1 Recommended Book
1 Gifts with a maximum price idr 5k
and kindly bring some snacks for sharing.
RSVP : 085728916806

Let’s get more friends, books and inspiring stories!
Please kindly reblog. Spread the news! Thanks. :)

lendabook:

Jogja Lendabook #1MeetUp

Saturday, 25 Mei 2013 | 08.00 AM | Benteng Vredeburg

Bring your:

  • 1 Recommended Book
  • 1 Gifts with a maximum price idr 5k

and kindly bring some snacks for sharing.

RSVP : 085728916806

Let’s get more friends, books and inspiring stories!

Please kindly reblog. Spread the news! Thanks. :)

(via peter-draw)

moemoerizal:

Apa kamu mendarat di sini karena kamu seorang pembaca buku? Kemungkinan besar, ya. Kalau kamu seorang penggembala sapi, mungkin kamu sedang merumput sekarang.

image

Oh, maaf. Salah. Maksudnya ini:

image

Anggap dugaan saya benar, kamu adalah pembaca buku-buku romance Indonesia yang lagi booming

Bacaan dasar yang wajib buat yang mau mulai nulis.

[Bukan Review] Chiffon Cake, Novel dari @karinpradita

Ini bukan review, karena aku belum baca sampai selesai. Novel-nya juga boleh pinjem dari Jeng Siska yang ternyata dia pinjem juga dari Jeng Nonovski, eh Mbak Novi. Nah disini akan dibahas tentang novel ini dari sisi pembaca biasa.

Novel adalah sebuah karya curahan ide, imajinasi, karangan dari si penulis, memang seperti itu kan? Tapi jangan lupa, market sang penulis adalah pembaca, dan sebisa mungkin, buatlah pembaca nyaman dengan apa yang kita tulis.

Menurutku sih, isi ceritanya sederhana dan ringan, tapi Mbake lupa dengan hak-hak pembaca, bukan hak untuk membaca, tapi berimajinasi dari apa yang mereka baca.

What’s the problem, dude? Terlalu detail!

Lho, emang kenapa? Masbuloh? Masalah buat loh? Masbayu? Masalah buat yu?

  1. Setiap dialog ada penjelasannya.
    Mari gunakan cara ala bang Moemoe, lebih enak mana dialog ini:

    “Selamat pagi, Mas!” Dodolgarut menyapa Lempok Duren.
    “Pagi juga, Mas. Rajin banget pagi-pagi udah lari pagi.” Kata Lempok Duren sambil menyiram bunga yang terdiri dari tulip, mawar, melati, semuanya indah.
    “Oh iya, tadi malem rumah Pak RT kerampokan.” Dodolgarut memberi kabar dengan mata melotot tajam.
    “Apa? Kok bisa?” Jawab Lempok Duren kaget sambil melempar selang ke udara.
    “Katanya TV, Video Player, PS, sama anak gadisnya diculik juga.” Dodolgarut mencoba menjelaskan sambil lari di tempat.

    Atau yang ini?

    “Selamat pagi, Mas!” Dodolgarut menyapa Lempok Duren.
    “Pagi juga, Mas. Rajin banget pagi-pagi udah lari pagi.”
    “Oh iya, tadi malem rumah Pak RT kerampokan.”
    “Apa? Kok bisa?”
    “Katanya TV, Video Player, PS,m sama anak gadisnya diculik juga.”

    Dialog pertama, penulis pasti bakal pusing mikirin ekspresi mereka, berimajinasi untuk dituliskan ke isi cerita, dan pembaca juga serasa didikte karena harus mengikuti situasi, keadaan, ekspresi yang dijejalkan kedalam otak pembaca, hasilnya imajinasi pembaca buntu.

    Dialog kedua, penulis gak usah capek jelasin ekspresi mereka apa, mereka lagi apa, biarlah si pembaca mengatur imajinasi mereka mau dibawa kemana itu dialog.
  2. Penggambaran situasi yang terlalu detail juga, clue saja udah cukup.
    Mbake terlalu menggambarkan dengan detail baju apa yang dipakai si tokoh, bagaimana suasana Jakarta saat itu yang panas (ya emang panas dari dulu kok), plat nomor mobil Karen, dan yang belum sempat saya baca :p.

    “Blue flat shoe Fladeo” jujur, bawa merek itu mengganggu pembaca, apalagi reader punya merek idolanya sendiri. Menurutku sih dengan “Blue flat shoe” aja udah cukup, mau itu merek Elizabeth, Yongki Komaladi, sampai Swallow, biarkan reader yang menentukan imajinasi tokoh pakai merek apa. Bagaimana dengan Honda Jazz? Masyarakat sudah biasa menyebut Honda Jazz daripada Jazz atau mobil Jazz.

    Plat K 4123 NA, biarlah jadi misteri Karen bikin itu plat nomor dari daerah mana, biar reader “google it first” atau kalau perlu jangan cantumin plat nomor, karena kemungkinan K 4123 NA already taken and used in a vehicle, sensitif lho, termasuk nyantumin private property. Sebut saja “Honda Jazz buluk”, atau sekalian kasih nama sama “Honda Jazz hitam” itu, “Hitam manis” misal.
  3. Datar.
    Alur ceritanya biasa, datar, kurang ‘konflik’, kurang penekanan pada emosi si tokoh, entah hari itu sang tokoh bahagia, senang, sedih, nangis, lapar, atau sembelit.

    Inget Ayesha dapet pujian dari Pak Harto? (Itumah mantan presiden RI ya, maksudnya Pak Haryo), setelah Klapertaart buatannya dipuji habis-habisan sampe Pak Haryo jilatin piringnya? Description itu gak cukup, harus ada ekspresi yang diperlihatkan, misal Ayesha bilang “YES!” atau “Puji Tuhan!” atau “Alhamdulillah”, lebih NGREGET.
  4. Bahasanya berat.
    Ini yang jadi masalah buat aku yang sebagai casual reader, ketika bahasanya seperti puisi atau sajak, otak langsung buntu, membaca ulang kalimat yang baru saja terbaca itu, cukup melelahkan.

Mbak, aku butuh berimajinasi mbak, bukan cuma membaca buku. Jadi, buat karya berikutnya, biarkan pembaca berimajinasi, baca juga buku-buku bagus yang sudah beredar, buku-buku ringan, biar bukunya bisa diterima setiap jenis manusia :D

I’m bored……. (Photo taken and uploaded via MOLOME )

I’m bored……. (Photo taken and uploaded via MOLOME )

Watching Lincoln

– View on Path.

Yang pasti gue lebih cakep… – View on Path.

Yang pasti gue lebih cakep… – View on Path.

Jadi, mau dikemanain yang pake fasilitas ini.? at bca solo – View on Path.

Jadi, mau dikemanain yang pake fasilitas ini.? at bca solo – View on Path.

Yang lagi nyangkul jalanan… at Gameloft Studio JO2 – View on Path.

Yang lagi nyangkul jalanan… at Gameloft Studio JO2 – View on Path.