Opini Pribadi tentang Pesawat Kepresidenan

Isu tentang pesawat kepresidenan yang kini sedang hangat, banyak menimbulkan pro dan kontra, ada yang berpendapat bahwa ini adalah sebuah pemborosan, dan ada juga yang berpendapat bahwa dengan membeli pesawat kepresidenan akan menaikan gengsi negara, bahkan segelintir orang mencibir pemerintah yang saat ini sedang menjabat dengan sebutan “maling”.
Saya sendiri terkejut kalau RI sudah memesan BBJ2 (Pengembangan dari Boeing 737NG) untuk pesawat kepresidenan, dan saya baru mengetahuinya beberapa minggu yang lalu. Setelah membaca dari berbagai media, saya merasa setuju kalau RI punya pesawat kepresidenan, dengan alasan:
- Efisien, dan tidak akan mengganggu jadwal penerbangan flag carrier (Garuda Indonesia) lagi.
Kenapa? Karena menurut saya, dengan adanya RI one (sebutan untuk pesawat kepresidenan RI) Presiden beserta stafnya tidak akan ‘mengganggu’ pesawat Garuda yang digunakan untuk penerbangan berjadwal. - Berhemat untuk jangka panjang dibandingkan menyewa pesawat sejenis. Memang biaya pembelian lebih mahal dibanding menyewa pesawat, tapi bandingkan jika dengan menyewa pesawat untuk 5 tahun? atau 10 tahun? ‘Tapi kan presiden gak akan menyewa selama itu’, iya sih, tapi setidaknya negara memiliki aset tambahan, yaitu sebuah pesawat BBJ :D dan juga, RI sudah berhasil melakukan penawaran sehingga harga pesawat bisa turun dan lebih murah dari harga awal.
- Keamanan lebih terjaga dibanding dengan menyewa, karena BBJ2 (Pesawat yang dipesan untuk RI one) dilengkapi dengan perlengkapan keamanan, dan ini sangat penting untuk ‘orang nomor satu’ di Indonesia.
Lalu, bagaimana dengan tanggapan saya dengan komentar yang kontra? Sederhana saja, memang ada beberapa yang beranggapan membeli BBJ2 dari Boeing itu sebagai pemborosan, tidak cinta produk dalam negeri, atau ada yang membandingkan dengan Kepala Negara sahabat.
Masalah pemborosan, tidak akan saya bahas disini, tapi tanggapan ‘tidak cinta produk sendiri’ yang membuat saya senyum kecut ketika membaca komentar tersebut dengan berkomentar “Kenapa tidak membeli dari PTDI? (PT. Dirgantara Indonesia)”, untuk saat ini, PTDI sendiri belum siap untuk memproduksi pesawat jet sekelas BBJ2, bahkan kalaupun pemerintah sudah menyiapkan dana, waktunya tidak akan cukup untuk memproduksi sebuah pesawat ataupun melanjutkan riset proyek N2130 PTDI yang sudah tidak ada kejelasannya itu.
Kalaupun RI one menggunakan produksi PTDI, itupun hanya sebatas pesawat CN235 dengan jarak tempuh maksimum sekitar 5.000 km saja. Ya kalau Kepala Negara hanya muter-muter di Indonesia saja sih bukan masalah, tapi bagaimana jika ada kunjungan ke Negara Sahabat? Pasti akan melelahkan :p
Lalu dengan tanggapan yang menyebutkan “Bahkan Kepala Negara X saja bepergian dengan maskapai berjadwal”, memang, cara ini jauh lebih hemat daripada harus menyewa atau membeli, tapi dilihat dari kesiapan Airline yang ada di Indonesia, sangatlah sulit untuk mengambil peran RI one ini, bagaimana tidak, jika Presiden akan melakukan kunjungan ke Negara X, sementara Flag Carrier (Garuda Indonesia) tidak memiliki rute ke Negara tersebut, bagaimana bisa? Atau harus dengan Airline negara lain yang melayani rute tersebut? Kembali ke faktor keamanan! ;)
Rasanya opini yang ada dikepala saya sudah tersampaikan disini, saatnya untuk tidur dan bersiap untuk kerja lembur besok :D
2 Notes/ Hide
-
reinfriedmarass liked this
-
developed6ok liked this
-
mylazydays liked this
-
sendyyeah posted this